Surat dari Istri Bung Tomo

Tahun 2008, sudah 4 tahun yang lalu saya membeli buku ini, namun rasanya selalu senang untuk membacanya kembali, memoar dari seorang istri Bung Tomo, Ibu Sulistina Sutomo

Buku ini menuliskan tentang masa masa pertemuan Ibu Lies dan Bung Tomo dalam suasana perang kemerdekaan, masa berpacaran, menikah, gerilya, hingga diakui kemerdekaan oleh Belanda, mengarungi pasang surut kehidupan bersama, bahkan dalam sehari hanya makan sekali saja dan tinggal disebuah bilik bambu sempit pernah mereka lalui bersama, segala pahit manis kehidupan.

Awal dari buku ini dibuka dengan sepucuk surat dari Ibu Lies yang bagi saya sangat menyentuh isinya, cukup inspiratif bagi kita semua 
=========================================================================

Mas Tom

Hampa sekali hidup ini tanpa engkau. Aku menyadari kini, sungguh berat dan sunyi hidup tanpa suami tercinta. Kemanapun aku bergerak, kemanapun aku pergi, selalu ingat padamu. Berkali kali aku berusaha melupakanmu tetapi justru wajahmu selalu terbayang.

Serasa seluruh sudut dan ruang dirumah kita ini semakin mengingatkan peristiwa yang pernah kita alami bersama

Aku keruang depan, buku, kertas, map bertumpuk disitu. Lembaga Bantuan Hukum yang kau dirikan masih ada. Sebab jiwamu, cita citamu tetap ada. Anakmu Bambang Sulistomo yang meneruskan usahamu Mas Tom, membantu buruh buruh yang kena musibah, membantu orang orang yang memerlukan bantuan dibidang hukum. Dia pun tak pernah meminta upah atau bayaran, sebab kami meneladani apa yang Mas Tom dulu lakukan.

Ketika aku ke halaman depan ada mobil lewat. Aku ingat Mas Tom selalu membukakan pintu mobil untukku. Walau aku tak ingin dibukakan oleh suami, tetapi Mas Tom selalu melakukan hal itu. Herannya dari dulu dimulai saat kita berkenalan hingga menjelang akhir hayat hal itu tetap Mas Tom lakukan.

Setelah Mas Tom tak ada,anak anak sering mengajakku keluar kota. Tetapi yang terbayang hanya Mas Tom, ya, ketika Mas Tom mengajakku keluar kota,melihat sawah dan Mas Tom bercerita tentang para petani, tentang rakyat kecil yang dulu pernah membantu perjuangan kemerdekaan. Mas Tom terkesan pada mereka, menghargai mereka dan membicarakan tentang mereka dengan semangat yang tinggi.

Ketika pulang Mas Tom menggenggam erat tanganku dan bertanya “Senangkah kuajak keluar kota?” berkata begini Mas Tom menatap mataku ingin menjenguk isi hatiku. Kata orang mata adalah jendela jiwa. Mas,aku senang jika mas mengajakku jalan jalan, aku senang mendengarkan Mas Tom mengenang tentang mas perjuangan waktu itu.

Aku senang mendengar getar suaramu, walau usia merambat tua namun tetap berkobar semangatmu.

Bagai memutar film kehidupan, demikianlah aku ketika menulis surat ini. Aku tau Mas Tom tidak dapat membacanya,namun menulis surat untukmu mengurangi rasa rinduku.

Ada satu peristiwa yang tak mungkin terlupa. Mas Tom selalu mengajakku mendampingimu kalau bepergian. Pernah Mas Tom diundang menghadiri sidang veteran di Nairobi, Kenya. Tetapi Mas Tom tak mau pergi karena aku tak ikut sebab tak ada dananya. Undangan yang hanya untuk satu orang itu kau berikan pada kawan seperjuangan dan Mas hanya menitipkan pesan dan catatan untuk disampaikan di sidang.

Sepertinya Mas Tom tahu kalau hidup ini tak akan lama, menjelang hari hari akhirmu, aku harus ikut serta kemanapun kau pergi, bahkan ke rapat, seminar dan lain lain. Aku tak dapat menolaknya sebab dengan segala macam cara kau yakinkan diriku bahwa Mas amat memerlukanku walau aku hanya duduk diam di seminar atau rapat. Tanganku selalu kau pegang sepertinya kau takut genggaman itu lepas,seperti remaja yang pacaran.

Tak pernah kuduga itu adalah akhir dari manusia yang kusayangi.
Mas Tom, ada satu yang ingin kukatakan dalam surat yang panjang ini. Dalam kehidupan rumah tangga kita,aku merasakan kebahagiaan suami istri. Aku bangga menjadi istrimu. Aku bangga menjadi pendampingmu. Engkau selalu membahagiakan aku,bagaimana sulitpun kehidupan kita. Tak pernah kau membuatku risau. Mottomu adalah “put your wife on a pedestal” benar benar Mas lakukan. Mas Tom, engkau betul betul suami yang pantas menjadi tauladan.

Ketika kau tiada, aku membuka dompetmu, aku menangis ketika menatap fotoku di dompet itu. Aku tak pernah menggeledah dompetmu sebelumnya. Dibawah fotoku yang tersenyum itu ada tulisanmu : iki bojoku (ini istriku) , pada foto lainnya kau tulis “Tien istri Tomo”.

Orang mengatakan Bung Karno seorang romantis disamping sebagai pemimpin. Dan aku berani mengatakan bahwa Mas Tom adalah suami yang amat romantis. Mas Tom adalah seorang pahlawan dan sekaligus pencinta besar. You are a Hero, a patriot, a great lover hingga hari akhirmu.

Mas Tom, anak anak kita sudah besar semua dan masing masing mempunyai rumah tangga sendiri. Aku merasa sangat sepi. Jalan didepan rumah kita memang ramai, tetapi hatiku lengang sekali. Rasanya waktu berhenti. Aku tak bisa menulis, tetapi aku akan mencobanya. Tiap hari aku menulis tahap demi tahap masa lalu kita, dengan mengingat kembali kehidupan kita,aku selalu merasa Mas Tom masih ada disampingku.

Love,
Istrimu


Sulistina

=========================================================================

Itulah sepenggal surat pembuka di buku ini, isinya sungguh sarat dengan makna tentang kesetiaan, tentang persahabatan, tentang perjuangan, dan tentang kehilangan

Buku ini sudah tidak dapat lagi ditemukan di toko buku umum, mungkin kalau mau ubek ubek toko buku loakan baru bisa dapat kalau beruntung, tapi jangan khawatir, jika ingin membaca buku ini selengkapnya silahkan kunjungi RoodeBrug Soerabaia Corner, di parkir barat Monumen Tugu Pahlawan =)

0 Comments:

Posting Komentar